<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Guspriy Blog&#039;s</title>
	<atom:link href="http://guspri.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://guspri.com</link>
	<description>Learn from the mistakes of others, and you don&#039;t to make them all yourself.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 Jun 2010 04:10:59 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ayah, Listen to Me, Please</title>
		<link>http://guspri.com/ayah-listen-to-me-please/</link>
		<comments>http://guspri.com/ayah-listen-to-me-please/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 04:10:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyagus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>
		<category><![CDATA[Pengendalian Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guspri.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA["Ayah tahu tidak, kata ibu guru, besok pagi semua anak kelas 2 SD kita harus membawa karton warna hitam." Ayyub kecil yang tahun ini genap berusia 7 tahun memulai pembicaraan dengan ayahnya ketika sang ayah bergegas menggandeng tangan anaknya untuk dibawa pulang kerumah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/06/father-son.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-53" title="father-son" src="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/06/father-son-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a></p>
<p>&#8220;Ayah tahu tidak, kata ibu guru, besok pagi semua anak kelas 2 SD kita harus membawa karton warna hitam.&#8221; Ayyub kecil yang tahun ini genap berusia 7 tahun memulai pembicaraan dengan ayahnya ketika sang ayah bergegas menggandeng tangan anaknya untuk dibawa pulang kerumah.</p>
<p>&#8220;Ayah, tadi si Jundi bilang kalau dia tidak mau main dengan Ahmad yah, karena Ahmad suka mukul, kalau mukul memang suka sakit, kemarin saja aku dipukul pundakku, lihat deh yah, sampai sekarang aku masih terasa sakit,&#8221; sambil membuka kancing baju seragamnya sikecil Ayub mencoba menunjukkan bekas rasa sakit dibahunya pada sang ayah.</p>
<p>Namun dengan sedikit keras sang ayah menarik tangan anaknya sambil tangan kanannya memegang handphone dan berbicara dengan seseorang di sebrang sana, tanpa menoleh sedikitpun pada pundak anaknya yang agak terbuka.</p>
<p>&#8220;Ya, ya, nanti saya datang, sekitar satu jam lagi, ya lagi jemput anak nih, ibunya sakit.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ok,  siapkan saja, nanti saya bantu, insya ALLOH, ok sampai ketemu, wa’alaikumsalam warahmatullohi wabarakatuh,&#8221; demikian seru dan salam lengkap sang ayah pada lawan bicaranya di handphone.</p>
<p>Sesampainya dirumah, ayah memanggil Ayub untuk menyuruhnya segera ganti baju, namun setelah dua tiga kali dipanggil ayah merasa terpancing emosinya dan mulai marah. &#8220;Ayub, Ayub..telingamu dengar tidak sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Pasang telingamu, ayah bilang ganti bajumu yang kotor, ayo sana, jangan menyusahkan ayah, ayah mau kembali kerja dan ibu lagi sakit, ayo, jadi anak soleh, nurut sama ayah..&#8221; demikian suara kerasnya membuyarkan senyum Ayub yang tengah asyik main lego tanpa mengganti baju seragamnya yang sudah kotor berkeringat.</p>
<p>Lain waktu ayah menjadi marah lagi untuk kesekian kalinya, ketika Ayyub kecil harus di marahi 3 kali karena tidak mau mendengar perkataan ayahnya yang menyuruh Ayyub mengambil air wudhu ketika adzan magrib terdengar sayup-sayup dari rumah mereka yang tenang.</p>
<p>Haruskah ayah marah terus karena Ayyub tidak mau mendengar semua kata-kata ayah, dan diperlukan beberapa kali teguran keras yang terkadang berpuncak pada kemarahan yang menggelegar ketika Ayyub kembali tidak mendengar setelah ayah merasa lelah menyuruh dan berkata baik pada Ayyub.</p>
<p>Apakah ayah tidak ingat, bahwa seringkali Ayyub meminta perhatian ayah dan berkata serta bercerita sementara ayah sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan seringkali tidak mendengar atau mendengar hanya depannya saja, karena Ayyub kecil bicara terus dimana ayah merasa apa yang dibicarakan Ayyub tidak begitu penting, sehingga ayahpun tidak memperhatikannya.</p>
<p>Bahkan yang Ayyub kecil rasakan adalah betapa ketika Ayyub bicara, ayah malah menelpon seseorang dan bebicara pada orang tersebut, jadi tidak salah kan, bila ayah bicara pada Ayyub, Ayyub pun tidak antusias mendengarkan karena ayah telah mengajarkan Ayyub untuk tidak memperhatikan lawan bicara ketika kita bicara.</p>
<p>&#8220;Jadi, kenapa ayah marah-marah yaa? ketika Ayyub tidak mau mendengar kata-kata ayah? toh ayah juga suka tidak mendengarkan Ayyub kalau Ayyub lagi bercerita pada ayah, aku kan hanya meniru..&#8221; mungkin demikian pikiran Ayyub kecil terhadap ayahnya.</p>
<p><em>diambil dari : http://jisc.eramuslim.com/jendela_hati/display/362-ayah-listen-to-me-please</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guspri.com/ayah-listen-to-me-please/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Instruction of Life</title>
		<link>http://guspri.com/instruction-of-life/</link>
		<comments>http://guspri.com/instruction-of-life/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Apr 2010 22:15:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyagus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Instruction of Life]]></category>
		<category><![CDATA[Intruksi kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guspri.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[One with great minds tends to discuss ideas, One with average minds tends to discuss events, and one with small minds tends to discuss people.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/04/life-instruction.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-49" title="life-instruction" src="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/04/life-instruction-300x183.jpg" alt="" width="300" height="183" /></a>Many people <span class="current">walk in and out of your life. But only true friends </span><span class="current">will leave footprints in your heart. </span></p>
<p><span class="current">He </span><span class="current">who loses money, loses much. But he </span><span class="current">who loses a friend, loses more. And he </span><span class="current">who loses faith, loses all.</span></p>
<p><span class="current">One </span><span class="current">with great minds tends to discuss ideas, One </span><span class="current">with average minds tends to discuss events, and one </span><span class="current">with small minds tends to discuss people.</span></p>
<p><span class="current">To handle your self use your head, and to handle others use your heart.</span></p>
<p><span class="current">ANGER is only letter short of DANGER.</span></p>
<p><span class="current">if someone betrays you once, it&#8217;s his fault. If he betrays you t</span><span class="current">wice, it&#8217;s your fault.</span></p>
<p><span class="current">GOD gives every bird its food, but He doesn&#8217;t thro</span><span class="current">w it into the nest.</span></p>
<p><span class="current">Beautiful young </span><span class="current">women are acts of nature, and beautiful old </span><span class="current">women are </span><span class="current">works of art.</span></p>
<p><span class="current">Learn from the mistakes of others, and you don&#8217;t to make them all yourself.<br />
</span></p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="1026" /> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <o:shapelayout v:ext="edit"> <o:idmap v:ext="edit" data="1" /> </o:shapelayout></xml><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;">Cancel</span></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guspri.com/instruction-of-life/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sehari Satu Ilmu</title>
		<link>http://guspri.com/sehari-satu-ilmu/</link>
		<comments>http://guspri.com/sehari-satu-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 04:49:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyagus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Satu hari satu ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guspri.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Tak usah terlalu memkirkan ilmu yang muluk-muluk dulu seperti teori sains yang rumit. Cukup mulai dari ilmu yang terkait dengan kehidupan keseharian kita. Misalnya tentang ilmu pohon pisang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/04/ilmu.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-43" title="ilmu" src="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/04/ilmu-300x160.jpg" alt="" width="300" height="160" /></a>Orang yang sudah lulus kuliah atau sekolah bukan berarti berhenti belajar. Siapapun pasti sepakat dengan pernyataan ini. Hanya saja kadang kita diam-diam berhenti belajar tanpa sadar. Tak sempat lagi menambah wawasan pengetahuan, mengisi kapasitas pemikiran dengan ilmu-ilmu baru. Waktu habis dengan rutinitas pekerjannya msing-masing. Hasilnya, kualitas hidup kita hanya itu-itu saja, bahkan <em>mandeg</em> karena tidak ada pembelajaran lagi.</p>
<p>Hal ini wajar karena selepas pendidikan formal, tidak ada keterikatan lagi dengan sistem. Kita akan bebas. Karena sewaktu belajar di pendidikan formal mau tidak mau harus membaca berbagai buku dan menulis (paper, artikel atau makalah), ketika lulus tak ada beban lagi dengan aktivitas tersebut. Kecuali kalau kita memang gemar memabca dan menulis, aktivitas itu akan  tetap berlangsung. Walau kalau boleh jujur, diakui atau tdak, aktivitas pembelajaran tersebut kadangkala bukan sebuah kebutuhan atau kewajiban, melainkan hanyalah sebatas hobi belaka.</p>
<p>Ada dua hal yang sebenarnya menjadi inti tujuan kita belajar. Pertama, menambah wawasan pengetahuan. Kedua, menguasi keterampilan atau kecakapan hidup <em>(skill)</em>. Kedua hal tersebut yang ingin saya bincangkan dalam kesempatan ini. Bagaimana, kita bisa tetap terus belajar walaupun tiap hari sibuk bekerja. Ijinkan saya, mengutarakan sebuah strategi pembelajaran yang sederhana yaitu Sehari Satu Ilmu.</p>
<p>Tidak menutup kemungkinan orang punya kemampuan mendapatkan belasan, puluhan bahkan ratusan ilmu dalam setiap harinya. Tapi, saya percaya kenyataannya hal tersebut seribu satu dalam kehidupan keseharian kita. Maka, bagi orang biasa (seperti saya) sehari satu ilmu cukup. Kalau sebulan kan bisa 30 ilmu didapatkan. Tinggal buat daftarnya saja berapa ilmu yang kita kuasai.</p>
<p>Lalu prakteknya bagaimana?</p>
<p>Tak usah terlalu memkirkan ilmu yang muluk-muluk dulu seperti teori sains yang rumit. Cukup mulai dari ilmu yang terkait dengan kehidupan keseharian kita. Misalnya tentang ilmu pohon pisang. Ia tidak akan mati sebelum menghasilkan buah. Walaupun batang pohon menghasilkan buah baru kemudian ia rela layu kemudian mati. Ini sebagai contoh ilmu tentang wawasan pemikiran kita. Kalau benar-benar teresapi dalam jiwa, kelak kita bisa membuat karya terbaik dalam sejarah kehidupan kita. Buah karya yang terkenangan sepanjang masa.</p>
<p>Atau, kalau soal kecakapan hidup, tak usah jauh-jauh. Misalnya tentang ilmu membuka buku. Saya masih mendapati seorang doktor yang ilmunya mumpuni, tetapi belum memahami ilmu tentang membuka buku. Sadar atau tidak sadar, ia masih suka melakukan kebiasaan membuka buku dengan langkah jorok. Menjilat ujung jari kemudian disapukan ke pojok kertas.</p>
<p>Hasilnya selain sebauh pemandangan yang tidak estetis, juga kertas menjadi rusak. Beda kalau tahu ilmunya, ia cukup memegang ujung buku, kemudian membukanya. Hasilnya, buku tak mudah lusuh dan pemandangan pun lebih terkesan indah. Ini hanya sekedar contoh saja. Sekarang saatnya, kalau bisa, pastikan setiap hari kita mengusai satu ilmu. Ini sudah cukup. Ingat-ingat saja sebelum kita tidur. Sudahkah hari ini kita menguasai satu ilmu…?</p>
<p><em>diambil dari : http://jisc.eramuslim.com/gentong_ilmu/</em></p>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 510px; width: 1px; height: 1px;">
<h2>Sehari Satu Ilmu</h2>
<p class="post-info">Monday, 4 May 2009 | <a href="http://jisc.eramuslim.com/gentong_ilmu/">Gentong Ilmu</a></p>
<p>Orang yang sudah lulus kuliah atau sekolah bukan berarti berhenti belajar. Siapapun pasti sepakat dengan pernyataan ini. Hanya saja kadang kita diam-diam berhenti belajar tanpa sadar. Tak sempat lagi menambah wawasan pengetahuan, mengisi kapasitas pemikiran dengan ilmu-ilmu baru. Waktu habis dengan rutinitas pekerjannya msing-masing. Hasilnya, kualitas hidup kita hanya itu-itu saja, bahkan <em>mandeg</em> karena tidak ada pembelajaran lagi.</p>
<div></div>
<div>Hal ini wajar karena selepas pendidikan formal, tidak ada keterikatan lagi dengan sistem. Kita akan bebas. Karena sewaktu belajar di pendidikan formal mau tidak mau harus membaca berbagai buku dan menulis (paper, artikel atau makalah), ketika lulus tak ada beban lagi dengan aktivitas tersebut. Kecuali kalau kita memang gemar memabca dan menulis, aktivitas itu akan  tetap berlangsung. Walau kalau boleh jujur, diakui atau tdak, aktivitas pembelajaran tersebut kadangkala bukan sebuah kebutuhan atau kewajiban, melainkan hanyalah sebatas hobi belaka.</div>
<div></div>
<div>Benar, belajar itu tidak sekedar soal buku dan menulis, saya juga percaya itu. Ada dua hal yang sebenarnya menjadi inti tujuan kita belajar. Pertama, menambah wawasan pengetahuan. Kedua, menguasi keterampilan atau kecakapan hidup <em>(skill)</em>. Kedua hal tersebut yang ingin saya bincangkan dalam kesempatan ini. Bagaimana, kita bisa tetap terus belajar walaupun tiap hari sibuk bekerja. Ijinkan saya, mengutarakan sebuah strategi pembelajaran yang sederhana yaitu Sehari Satu Ilmu.</div>
<div></div>
<div>Tidak menutup kemungkinan orang punya kemampuan mendapatkan belasan, puluhan bahkan ratusan ilmu dalam setiap harinya. Tapi, saya percaya kenyataannya hal tersebut seribu satu dalam kehidupan keseharian kita. Maka, bagi orang biasa (seperti saya) sehari satu ilmu cukup. Kalau sebulan kan bisa 30 ilmu didapatkan. Tinggal buat daftarnya saja berapa ilmu yang kita kuasai.</div>
<div></div>
<div>Lalu prakteknya bagaimana?</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guspri.com/sehari-satu-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengajarkan Pengendalian Diri Kepada Anak</title>
		<link>http://guspri.com/mengajarkan-pengendalian-diri-kepada-anak/</link>
		<comments>http://guspri.com/mengajarkan-pengendalian-diri-kepada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2010 04:18:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyagus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Mengajarkan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Mengendalikan Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pengendalian Diri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guspri.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Dengan belajar mengendalikan diri, anak-anak bisa membuat keputusan yang tepat dan menanggapi situasi yang menekan dengan cara-cara yang bisa memberikan hasil positif.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/04/pengendalian-diri.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-37" title="pengendalian-diri" src="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/04/pengendalian-diri-229x300.jpg" alt="" width="229" height="300" /></a>Menolong Anak Belajar Mengendalikan Diri</strong></p>
<div>Dengan belajar mengendalikan diri, anak-anak bisa membuat keputusan yang tepat dan menanggapi situasi yang menekan dengan cara-cara yang bisa memberikan hasil positif.</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Contohnya, bila Anda mengatakan bahwa Anda tidak akan menyajikan es krim sampai setelah makan malam, anak Anda mungkin menangis, membuat alasan, atau bahkan berteriak dengan harapan Anda akan memberi mereka es krim.</div>
<div></div>
<div>Tetapi dengan pengendalian diri, anak Anda bisa memahami bahwa emosi yang meledak-ledak tidak akan membuat Anda memberikan es krim, sehingga akan lebih bijaksana bila menunggu dengan sabar.</div>
<div></div>
<div></div>
<div>Berikut beberapa saran tentang bagaimana menolong anak-anak Anda belajar mengendalikan tingkah laku mereka.</div>
<div>
<ol>
<li><strong>Anak baru lahir sampai usia 2 tahun. </strong>Bayi dan balita bisa frustasi karena besarnya jarak antara hal-hal yang mereka inginkan dan apa yang dapat mereka lakukan. Sering kali, ledakan emosi merupakan respons mereka ketika menghadapi hal tersebut. Mereka juga kadang mencoba melindungi emosi mereka dengan merusak mainan kecil mereka atau kegiatan-kegiatan lain. Bagi anak-anak yang menginjak usia 2 tahun, cobalah untuk memberikan waktu menyendiri sebentar di suatu tempat tertentu &#8212; seperti di kursi dapur atau anak tangga yang paling bawah &#8212; untuk menunjukkan konsekuensi dari ledakan emosi, dan ajarkan bahwa lebih baik menyendiri sebentar daripada meledakkan kemarahan.</li>
<li><strong>Anak usia 3 &#8212; 5 tahun. </strong>Anda bisa saja terus menggunakan waktu menyendiri. Namun, daripada memaksakan batas waktu tertentu, hentikan waktu menyendiri saat anak sudah mulai tenang. Ini membantu anak-anak meningkatkan tingkat pengendalian diri mereka. Pujilah mereka agar tidak kehilangan kendali dalam situasi yang membuat frustasi atau sulit.</li>
<li><strong>Anak usia 6 &#8212; 9 tahun. </strong>Saat anak masuk sekolah, mereka bisa memahami konsekuensi yang diberikan dengan lebih baik, dan mereka bisa memilih tingkah laku yang baik dan yang tidak baik. Anak Anda mungkin bisa terbantu dengan membayangkan suatu tanda berhenti yang harus dipatuhi dan memikirkan keadaan tertentu sebelum memberikan respons. Doronglah anak Anda untuk melalui situasi yang membuat frustasi selama beberapa menit untuk menenangkan diri, dan bukannya malah meledakkan emosinya.</li>
<li><strong>Anak usia 10 &#8212; 12 tahun. </strong>Anak-anak yang lebih besar biasanya bisa lebih baik dalam memahami perasaan mereka. Doronglah mereka untuk memikirkan apa yang menyebabkan mereka kehilangan kendali dan ajak mereka menganalisanya. Jelaskanlah, terkadang situasi-situasi yang pada awalnya membuat sedih, dapat berakhir dengan sangat berantakan. Bujuklah anak untuk meluangkan waktu sebentar sebelum meresponi suatu situasi.</li>
<li><strong>Anak usia 13 &#8212; 17. </strong>Pada usia ini, anak-anak seharusnya dapat mengendalikan sebagian besar tindakan mereka. Tetapi, ingatkan para remaja untuk memikirkan konsekuensi jangka panjangnya. Bujuklah mereka supaya berhenti sejenak untuk mengevaluasi situasi yang menyedihkan itu sebelum memberikan respons dan bicarakanlah masalah-masalahnya daripada kehilangan kendali, membanting pintu, atau berteriak. Bila perlu, disiplinkan anak remaja Anda dengan memberikan hak istimewa untuk menguatkan pesan bahwa pengendalian diri adalah keterampilan yang penting.</li>
</ol>
</div>
<div><strong>Saat Anak-Anak Lepas Kendali.</strong></div>
<div>
<div>Berikan contoh yang baik untuk anak-anak Anda dengan menunjukkan cara-cara yang sehat dalam memberikan reaksi atas situasi yang membuat mereka stres. Sesulit apa pun, tetaplah berusaha untuk tidak berteriak saat Anda sedang mendisplin anak-anak Anda. Sebaliknya, cobalah untuk tegas dan fokus pada masalah.</div>
<div>Saat anak Anda sudah mulai tenang, tetaplah tenang dan jelaskan bahwa berteriak, emosi yang meledak, dan membanting pintu adalah perilaku yang tidak dapat diterima dan ada konsekuensinya &#8212; lalu katakan apa konsekuensinya.</div>
<div>Tindakan Anda bisa menunjukkan bahwa kemarahan bukanlah cara yang tepat bagi anak-anak untuk meminta sesuatu. Contohnya, bila anak Anda marah di toko serbaada setelah Anda menjelaskan mengapa Anda tidak mau membelikan permen untuknya, jangan menyerah &#8212; hal ini menunjukkan bahwa kemarahan adalah sesuatu yang tidak dapat diterima dan tidak efektif untuk mereka lakukan.</div>
<div>Bila anak Anda sering kehilangan kendali dan terus mendebat/membantah, antisosial, atau impulsif, atau bila kemarahannya lebih dari 10 menit, bicarakan hal ini dengan dokter anak Anda. Bicarakan pula dengan dokter bila kemarahan anak Anda yang masih sekolah itu disertai dengan:</div>
<div>
<ul>
<li>kegelisahan/keresahan,</li>
<li>sikap impulsif,</li>
<li>sikap menentang,</li>
<li>kesulitan dalam      berkonsentrasi,</li>
<li>harga diri yang rendah, atau</li>
<li>menurunnya prestasi di sekolah.</li>
</ul>
<p>Pertimbangkan untuk berbicara dengan guru anak Anda tentang susunan ruang kelas dan tingkah laku yang tepat seperti yang diharapkan. Juga, lihatlah pada tindakan Anda sendiri apakah Anda sedang mengatasi sebaik mungkin situasi yang membuat stres. Bila tidak, Anda mungkin ingin bertanya kepada dokter Anda apakah diperlukan konseling keluarga.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guspri.com/mengajarkan-pengendalian-diri-kepada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Instruksi Kehidupan</title>
		<link>http://guspri.com/instruksi-kehidupan/</link>
		<comments>http://guspri.com/instruksi-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 04:54:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyagus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Instruction of Life]]></category>
		<category><![CDATA[Intruksi kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guspri.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Orang yang kehilangan uang, ia kehilangan banyak. Tetapi orang yang kehilangan teman, ia kehilangan lebih banyak. Dan orang yang kehilangan kepercayaan, ia kehilangan segala-galanya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/04/no-one-knows3.jpg"></a><a href="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/04/no-one-knows3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-32" title="no-one-knows" src="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/04/no-one-knows3-300x164.jpg" alt="" width="300" height="164" /></a>Banyak orang datang dan pergi dalam kehidupanmu. Namun hanya teman sejatilah yang akan terukir dalam hatimu.</p>
<p>Orang yang kehilangan uang, ia kehilangan banyak. Tetapi orang yang kehilangan teman, ia kehilangan lebih banyak. Dan orang yang kehilangan kepercayaan, ia kehilangan segala-galanya.</p>
<p>Orang yang cerdas cenderung mebicarakan ide-ide. Orang biasa cenderung ngobrol tentang peristiwa-peristiwa. Dan orang yang kurang cerdas cenderung menggunjingkan orang lain.</p>
<p>Untuk mengatasi dirimu gunakanlah akalmu. Dan untuk mengatasi orang lain, gunakanlah hatimu.</p>
<p>ANGER (amarah) adalah kependekan dari DANGER (bahaya).</p>
<p>Jika orang mengkhianatimu sekali, itu adalah kesalahannya. Namun jika ia mengkhianatimu dua kali, itu adalah kesalahanmu.</p>
<p>Tuhan memberi setiap burung makanan, namun Ia tidak melempar makanan itu ke dalam sarang.</p>
<p>Wanita muda yang cantik adalah kehendak alam. Dan wanita tua yang cantik adalah hasil dari seni.</p>
<p>Belajarlah dari kesalahan-kesalahan orang lain. Dan kamu tidak perlu berbuat kesalahan-kesalahan itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guspri.com/instruksi-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jika Terdesak Doraemon Baru Muncul</title>
		<link>http://guspri.com/jika-terdesak-doraemon-baru-muncul/</link>
		<comments>http://guspri.com/jika-terdesak-doraemon-baru-muncul/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 04:32:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyagus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[buru-buru]]></category>
		<category><![CDATA[kepepet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guspri.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Pernah dengar cerita suksesnya Bill Gate? 
Bill menuai sukses di bisnisnya saat menjual program DOS kepada IBM. Ajaibnya saat Bill menawarkan program DOS ke IBM, BIll bersama rekannya, Paul Allen dan Steve Ballmer sama sekali belum memiliki program itu]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/04/buru-buru.jpg"></a><a href="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/04/buru-buru.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-9" title="buru-buru" src="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/04/buru-buru-250x300.jpg" alt="" width="250" height="300" /></a></p>
<p>Kita sudah berikan waktu dua minggu untuk intensif belajar, kisi-kisi (alias bocoran yang bakal keluar) sudah dibagikan, tapi ada saja orang tua murid dengan nada canda yang merasa berat dan dengan pengakuan yang tulus ikhlas mau menerapkan sistem SKS alias sistem kebut semalan tuk bantu ajari anaknya <img src='http://guspri.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  barangkali si Ibu lagi menunggu kepepet sebab mungkin Ibu ini pernah baca buku karangan Jaya Setiabudi yang berjudul the Power of Kepepet. Piss Bu! <img src='http://guspri.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Atau pula kita, sebagai guru, sering berujar tenang! tenang!&#8230;masih ada waktu. Lesson plan, koreksi soal, isi rapot, ternyata sudah menggunung dan berkabut dibatok kepala, membuat mumet dan semaput, sedangkan batas waktu pengumpulan sudah mepet. Akhirnya dengan kekhawatiran asap dapur berkurang, anak jadi cengeng karena kurang susu dan sifat manusiawi lainnya menyundul-nyundul, tiba-tiba otak kepala dipenuhi ide dan semangat dan dalam waktu singkat kadang pula di hari H pengumpulan, semua pekerjaan itu selesai. Ajaaaaaibbb! Hehe…itu aku teman! Jangan ditiru! J</p>
<p>Ada pula mahasiswa yang sudah bertahun-tahun menempuh bidang studi, boleh dikatakan prestasinya gemilang. Tapi mendekati penghujung skripsi, rasa malas dan mungkin juga kejenuhan yang menggunung hingga stuck dan mengambil jeda untuk senang-senang, tapi ketika dihadapkan dengan kenaikan pangkat, dikejar status sarjana oleh mertua dengan gesitnya tidak sampai satu bulan, beres semua! Piss Kawan-kawan, yang merasa boleh kesindir, mumpung belum dosa, hehe…</p>
<p>Pernah dengar cerita suksesnya Bill Gate? (dikutip juga dari buku kepepet, karena kepepet..hehe)</p>
<p>Bill menuai sukses di bisnisnya saat menjual program DOS kepada IBM. Ajaibnya saat Bill menawarkan program DOS ke IBM, BIll bersama rekannya, Paul Allen dan Steve Ballmer sama sekali belum memiliki program itu dan lebih gilanya lagi , kata DOS digelontorkan Bill secara spontan dan tanpa diketahui terlebih dahulu oleh kedua rekannya yang saat itu berada di satu meja, saat berhadapan dengan para direksi IBM.</p>
<p>Di film pirates of the silicon valley kisah itu diabadikan dalam dialog, berikut ini cuplikannya</p>
<p>Bill : Kita mempunyai yang anda butuhkan!</p>
<p>IBM : permulaan yang baik!</p>
<p>Bill : kami tahu IBM harus bangun tempat ini untuk bersaing dengan apple. Dan berpacu membuat personal computer untuk kalahkan mereka. Jadi, kami bisa memberi IBM sebuah sistem kerja.</p>
<p>IBM : Sistem kerja seperti apa??</p>
<p>Bill : Namanya &#8230;. DOS disingkat Disk Operating Sistem</p>
<p>Setelah selesai, mereka pulang, dan diperjalanan percakapan masih berlanjut “gila lu Bill, kita kan gak punya sistem kayak gituan, pasti habis kita, kata si Paul.”</p>
<p>&#8220;hei lu jangan bilang begitu gue kan udah bilang sama IBM punya DOS, sekarang kita cari tuh yang namanya DOS!???”</p>
<p>Akhir cerita dalam kondisi &#8220;kepepet bin terdesak&#8221; dengan melihat peluang yang sangat besar dan harapan yang membuncah mereka ingat ada prusahaan yang punya system operasi namanya Seattle Computer Company, dan akhirnya mereka pergi kesana dan membelinya seharga 50 ribu dollar yang kemudian bisa menghasilkan jutaan dollar&#8230;kereenn!</p>
<p>Kepepet kadang memacu adrenalin, melebarkan ruang kreatifitas, membuat durable stamina, meningkatkan kinerja berlebih dan hasilnya adalah kantung DORAEMON yang dapat menghasilkan berbagai KEAJAIBAN.</p>
<p>Tapi yang terpenting lagi adalah menjaga dan memaintenance hasil dari keajaiban, kalau tidak, rasa malas akan menjalar lagi. Menunda-nunda jadi habbit lagi dan akhirnya harapan jadi seperti Bill Gate pun terkubur.</p>
<p>Mereka sukses karena kerja keras dan kreatifitas yang ditimbulkan oleh kepepet dijaga dan dikembangkan, bukan menunggu sampai kepepet itu datang lagi.</p>
<p><em>source : http://jisc.eramuslim.com/gentong_ilmu/display/297-doraemon-terdesak</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guspri.com/jika-terdesak-doraemon-baru-muncul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anak Lebih Banyak Dicela Dari pada Dipuji</title>
		<link>http://guspri.com/anak-lebih-banyak-dicela-dari-pada-dipuji/</link>
		<comments>http://guspri.com/anak-lebih-banyak-dicela-dari-pada-dipuji/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 04:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>priyagus</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jendela Hati]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Emosi]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://guspri.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Dalam sehari, seorang anak mendapat 120 celaan, hinaan, dan ancaman dari orang tua, sedangkan pujian hanya berkisar 15 kali per hari. Padahal, setiap ucapan termasuk celaan dari orang tua, merupakan doa kepada Allah SWT]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_5" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/04/gentong-ilmu-1.jpg"><img class="size-medium wp-image-5" src="http://guspri.com/wp-content/uploads/2010/04/gentong-ilmu-1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Anak Lebih Banyak Dicela Dari pada Dipuji</p></div>
<p><strong>Oleh : H.Suherna</strong></p>
<p>Dalam sehari, seorang anak mendapat 120 celaan, hinaan, dan ancaman dari orang tua, sedangkan pujian hanya berkisar 15 kali per hari. Padahal, setiap ucapan termasuk celaan dari orang tua, merupakan doa kepada Allah SWT sehingga orang tua perlu berhati-hati sebelum berucap. Hal ini ditegaskan oleh seorang pemerhati masalah anak-anak dalam sebuah bukunya “Bagaimana membangun cinta dan komunikasi dengan anak”. Menurutnya, anak-anak sampai saat ini masih mendapat perlakuan kurang baik dari orang tuanya sendiri sehingga lebih banyak mendapat ucapan negatif dari pada positif. &#8220;Dalam Islam setiap ucapan orang tua adalah doa yang harus dikhawatirkan apabila Allah mengabulkannya. Kalau kita katakan anak bodoh, dampaknya amat dahsyat sehingga lebih baik diganti menjadi semoga menjadi jenderal atau direktur,&#8221; demikian ditegaskan dalam buku tersebut.</p>
<p>Beliau mencontohkan, keberhasilan seseorang bernama Joko yang menjadi jenderal, padahal sewaktu kecil menyusahkan orang tuanya. &#8220;Untuk menghadapi ulah anaknya yang di rasa sudah kelewatan, sang ibu hanya bisa menangis seraya berucap semoga anaknya bisa jadi jenderal karena hanya bisa memerintah dan tak mau diperintah,&#8221; tuturnya . Salah satu kelemahan utama orang tua, menurutnya, adalah lebih senang melakukan eksekusi daripada apresiasi terhadap anak. &#8220;Orang tua langsung mengeksekusi anaknya sebagai bodoh atau istilah negatif lainnya, padahal eksekusi merupakan hak Allah seperti di Q.S. Al-Fatihah, maaliki yaumiddiin,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Dalam pandangannya, tidak ada istilah anak bodoh, terbelakang, atau nakal karena anak memiliki kecerdasan sendiri yang berbeda dengan kecerdasan anak lainnya. &#8220;Orang tua lebih sering menggunakan kacamata kecerdasan otak dari hasil belajar anaknya, padahal anak bisa jadi memiliki kecerdasan musik, intrapersonal, sosial, atau spiritual.&#8221; Untuk itu, tambahnya, orang tua perlu mengembangkan pendidikan kasih sayang di keluarga dengan meniru sifat Allah yang Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang). &#8220;Suami ataupun istri harus saling menerima apa adanya, demikian pula orang tua dengan anak. Jangan sekali-kali melihat dari sisi ada apanya.&#8221; Hal ini perlu pelurusan kembali peran dan tugas antara suami dan istri sehingga bisa saling memahami peran dan tugasnya masing-masing terutama dalam hal pengarahan terhadap anak-anaknya. &#8220;Tugas istri bukan hanya melayani suami layaknya pembantu. Bukan pula mencuci, memasak, belanja, atau pekerjaan rumah tangga lainnya,&#8221; Namun tugas istri, dalam buku terebut, hanya dua hal yakni taat kepada suami dan membimbing anak-anaknya sesuai dengan potensi dan kemampuannya si anak .Sedangkan tugas suami ada tiga yaitu memberikan nafkah, mempergauli istrinya dengan baik, dan membimbing istrinya menjadi wanita salehah. &#8220;Suami dan istri adalah mitra, qawwam, untuk saling mengisi karena masing-masing memiliki perbedaan sebagai fitrah dari Allah.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://guspri.com/anak-lebih-banyak-dicela-dari-pada-dipuji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
